![]() |
| Photo Adpim |
Gerbang Selatan.com — Pemerintah Provinsi Lampung
bersama DPP Lampung Sai dan Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) menggelar
tradisi masyarakat Lampung Blangikhan, yang dilaksanakan di Sesat Agung Nuwo
Balak, Kecamatan Gunung Sugih, Kabupaten Lampung Tengah, Rabu (18/2/2026).
Tradisi Blangikhan merupakan adat budaya Lampung dalam rangka menyambut Bulan
Suci Ramadan 1447 Hijriah.
Kegiatan diawali dengan arak-arakan dari Rumah Dinas Bupati Lampung
Tengah menuju Sesat Agung Nuwo Balak untuk pelaksanaan seremoni, kemudian
dilanjutkan arak-arakan menuju lokasi pelaksanaan tradisi Blangikhan.
Hadir dalam kegiatan tersebut Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela,
Wakil Menteri Pariwisata RI Ni Luh Puspa, Ketua Umum DPP Lampung Sai Komjen Pol
(Purn) Sjachroedin ZP, Ketua Umum MPAL Rycko Menoza SZP, serta unsur
pemerintah, serta tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Jihan Nurlela menyampaikan bahwa
tradisi Blangikhan atau turun mandi menjadi momentum kebersamaan dalam
menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
“Tradisi Blangikhan hadir sebagai pengingat bahwa Ramadhan disambut
dengan kesiapan hati, kesadaran diri, dan kebersamaan. Tradisi ini hidup karena
dijalankan, dirasakan, dan diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.
Melalui Blangikhan, jelas Wagub Jihan, masyarakat diajak membersihkan
diri, menata niat, serta meluruskan kembali hubungan dengan Sang Pencipta,
sesama manusia, dan alam sekitar.
“Budaya yang dijaga dengan baik akan melahirkan identitas daerah yang
kuat. Dari identitas itu tumbuh rasa percaya diri, persatuan, dan semangat
membangun daerah dengan tetap berakar pada kearifan lokal,” ujarnya.
Wagub Jihan berharap momentum Blangikhan dapat menjadi jembatan bagi
masyarakat untuk memasuki Ramadan dengan perasaan lebih lapang dan semangat
kebersamaan yang semakin erat.
Pada kesempatan itu, Wagub Jihan juga memaparkan capaian sektor
pariwisata Lampung. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat
kunjungan wisatawan ke Lampung saat ini menempati peringkat 10 besar nasional.
Ia mendorong agar Blangikhan dapat masuk ke dalam kalender acara
nasional Kharisma Event Nusantara guna memperkuat promosi pariwisata Lampung.
“Di Bali ada tradisi Melukat, mandi untuk membersihkan diri, dan itu
sudah dikenal luas. Mengapa tidak kita angkat tradisi Blangikhan ini? Saya kira
ini salah satu yang bisa dikenal secara nasional bahkan mancanegara,” ujarnya.
Menutup sambutannya, Wagub Jihan mengucapkan selamat menyambut dan
melaksanakan Ibadah Bulan Suci Ramadhan kepada seluruh masyarakat Lampung.
“Selamat menyambut bulan suci Ramadhan. Semoga kita dapat
mengoptimalkan kebaikan di bulan suci ini dengan penuh hikmat. Mohon maaf lahir
dan batin,” tutupnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pariwisata RI, Ni Luh Puspa, menyampaikan
apresiasi atas pelestarian budaya yang telah menjadi identitas masyarakat
setempat secara turun-temurun.
Ia menjelaskan, Blangikhan merupakan tradisi masyarakat Lampung yang
telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2019 oleh
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. "Tradisi ini dilaksanakan menjelang
bulan suci Ramadhan sebagai simbol penyucian diri, baik lahir maupun batin,
serta wujud persiapan spiritual dalam menyambut ibadah puasa," ujarnya.
Menurutnya, tradisi Blangikhan memiliki makna mendalam karena tidak
hanya mempererat hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga memperkuat hubungan
antarsesama dalam masyarakat.
Ia menilai tradisi tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan
sebagai daya tarik wisata berbasis budaya. Dengan pengemasan yang tepat,
Blangikhan dapat menjadi atraksi yang inklusif dan menarik wisatawan, baik
domestik maupun mancanegara.
“Kita perlu mengemas tradisi ini secara lebih optimal agar semakin
dikenal luas dan mampu menarik wisatawan dari luar daerah. Tradisi ini sangat
potensial menjadi bagian dari pengembangan pariwisata berbasis budaya di
Lampung,” ujarnya.
“Semoga tradisi ini terus terjaga dan menjadi kebanggaan bersama,”
tambahnya.
Ketua Umum MPAL, Rycko Menoza SZP, mengungkapkan rasa syukur karena
kegiatan berlangsung baik dan lancar berkat dukungan berbagai pihak.
“Acara ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan tradisi
budaya adat yang berjalan beriringan dengan tradisi keagamaan. Semoga melalui
kegiatan seperti ini, Lampung semakin maju, dikenal luas, dan semakin banyak
dikunjungi masyarakat dari luar daerah,” ujar Rycko.
Selain menonjolkan nilai sakral penyucian diri menjelang Ramadan,
kegiatan tersebut juga melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah
(UMKM) serta menyajikan berbagai kuliner khas Lampung untuk memperkenalkan
potensi lokal kepada tamu domestik maupun mancanegara.
Plt. Bupati Lampung Tengah, I Komang Koheri, menyampaikan bahwa makna
tradisi Blangikhan bukan sekadar seremoni, melainkan simbol pembersihan diri,
doa keselamatan, dan harapan demi masa depan yang lebih baik selaras dengan
nilai budaya adat Lampung.
“Tradisi Blangikhan merupakan warisan budaya yang mengatur nilai
kearifan lokal, etika, serta filosofi kehidupan masyarakat Lampung. Oleh karena
itu, menjadi tanggung jawab kita bersama untuk melestarikan, menjaga, dan
mewariskan adat istiadat ini kepada generasi muda,” ujarnya.
Acara ditutup dengan prosesi pemandian muli mekhanai yang dilakukan oleh
Wakil Gubernur Lampung, Wakil Menteri Pariwisata, Ketua MPAL, dan Plt. Bupati
Lampung Tengah. Prosesi tersebut ditandai dengan pemecahan kendi sebagai simbol
dimulainya tradisi Blangikhan. (Rls)

