Iklan

Meneguhkan Arah, Merawat Makna Pendidikan.

Admin
Jumat, 01 Mei 2026 | 20:58 WIB Last Updated 2026-05-01T14:00:09Z

Susilawati, Dosen Universitas Muhammadiyah Kalianda

 Oleh: Susilawati, Dosen Universitas Muhammadiyah Kalianda

Gerbang selatan.com - Di tengah derasnya arus perubahan zaman, pendidikan tidak hanya dituntut untuk bergerak cepat, tetapi juga tetap memiliki arah yang jelas. Inilah tantangan utama yang perlu kita refleksikan setiap peringatan Hari Pendidikan Nasional: bagaimana menjaga agar pendidikan tidak kehilangan makna di tengah tuntutan kemajuan.

Pendidikan saat ini berada dalam pusaran disrupsi teknologi. Digitalisasi telah membuka akses belajar yang luas, bahkan tanpa batas ruang dan waktu. Informasi tersedia dengan mudah, dan kecerdasan buatan mulai masuk dalam proses pembelajaran. Di satu sisi, ini merupakan kemajuan yang patut diapresiasi.

Namun di sisi lain, kemajuan tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh kualitas yang merata. Kesenjangan akses pendidikan masih 8menjadi persoalan nyata, termasuk di sejumlah daerah di Lampung. Infrastruktur yang belum merata, kualitas pembelajaran yang berbeda, serta keterbatasan sumber daya menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi. 

Jika dilihat dari indikator Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi, capaian Indonesia memang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, angka tersebut juga menunjukkan bahwa tidak semua lulusan usia kuliah benar-benar melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Artinya, masih terdapat kesenjangan akses dan partisipasi yang perlu menjadi perhatian bersama, khususnya di daerah.

Selain itu, praktik pendidikan kita masih sering terjebak pada orientasi administratif—nilai, ijazah, dan formalitas—bukan pada pembentukan karakter dan kompetensi. Akibatnya, muncul fenomena generasi yang cepat dalam mengakses informasi, tetapi belum tentu mampu memahami dan mengolahnya secara kritis.

Dalam konteks ini, pemikiran Ki Hajar Dewantara tetap relevan. Pendidikan adalah proses menuntun potensi manusia agar berkembang secara utuh. Artinya, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai proses pembentukan karakter dan kemerdekaan berpikir.

Sejalan dengan itu, KH Ahmad Dahlan melalui Muhammadiyah menegaskan pentingnya pendidikan yang berkemajuan. Ia memadukan ilmu agama dan ilmu umum, sekaligus menekankan bahwa ilmu harus diamalkan dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Gagasan tersebut menjadi sangat relevan hari ini, ketika pendidikan berisiko kehilangan substansi di tengah derasnya arus perubahan. Pendidikan tidak boleh hanya melahirkan individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga harus mampu membentuk manusia yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial.

Karena itu, pendidikan tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab lembaga formal. Masyarakat perlu terlibat aktif dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat. Keluarga menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter, sementara lingkungan sosial harus mampu mendorong tumbuhnya nilai dan etika.

Peran pemerintah juga sangat menentukan. Pemerataan akses pendidikan harus terus diperkuat, terutama di daerah yang masih menghadapi keterbatasan.

Peningkatan kualitas guru dan tenaga pendidik menjadi kunci dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu. Kebijakan pendidikan pun harus adaptif terhadap perubahan zaman, tanpa kehilangan pijakan nilai.

Transformasi digital memang tidak terelakkan. Namun tanpa arah yang jelas, transformasi tersebut justru berpotensi menjauhkan pendidikan dari tujuan utamanya.

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang bangsa. Ia bukan sekadar program, tetapi fondasi peradaban.

Sebagai pendidik, tanggung jawab kita tidak berhenti pada proses pengajaran. Kita memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu berpikir kritis, berakhlak, dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Pada akhirnya, meneguhkan arah dan merawat makna pendidikan bukan hanya tugas pemerintah atau lembaga pendidikan, tetapi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. (*) 

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Meneguhkan Arah, Merawat Makna Pendidikan.

Trending Now

Iklan

iklan